FILSAFAT ILMU: ONTOLOGI, EPISTEMOLOGI DAN AKSIOLOGI

BAHAN AJAR MK. FILSAFAT ILMU ONLINE BERBASIS FREE WEBLOG. "Pikiran adalah Pemberian Tuhan. Berpikir Mendalam terhadap realitas adalah bagian dari mengasihi Tuhan dan Sesama". Blog ini dikelola Oleh: Dr.Yonas Muanley, M.Th., Dosen Tetap STT IKSM Santosa Asih Jakarta

Artikel Terbaru

Wednesday, April 3, 2019

Teori Kebenaran


Teori Kebenaran
Berpikir dapat dikelompokkan menjadi beberapa bagian: berpikir pseudo ilmiah; berpikir awam; berpikir ilmiah dan berpikir filosofis. Berpikir secara filsafat dapat diartikan sebagai berpikir yang sangat mendalam sampai hakikat, atau berpikir secara global/menyeluruh, atau berpikir yang dilihat dari berbagai sudut pandang pemikiran atau sudut pandang ilmu pengetahuan. Berpikir yang demikian ini sebagai upaya untuk dapat berpikir secara tepat dan benar serta dapat dipertanggung jawabkan dengan kriteria (Asmoro Ahmadi, 5-7). Seperti: Sistematis; konsepsional; koheren, rasional; sinoptik; mengarah pada pandangan dunia.
Teori kebenaran menurut sumber ini: berpikir secara tepat dan benar dan dapat dipertanggungjawabkan harus memenuhi enam kriteria tersebut. Jika demikian bagaimana maksud dari setiap kriteria tersebut (Ibid)






1. Harus Sistematis
Pemikiran yang sistematis ini dimaksudkan untuk menyusun suatu pola pengetahuan yang rasional. Sistematis adalah masing-masing unsure saling berkaitan satu dengan yang lain secara teratur dalam suatu keseluruhan.

2. Harus Konsepsional

Konsepsional berkaitan dengan ide (gambaran) yang melekat pada akal pikiran yang berada dalam intelektual. Jadi, arti konsepsional adalah suatu upaya untuk menyusun suatu bagan yang terkonsepsi
3. Harus Koheren
Koheren atau runtut adalah unsure-unsurnya tidak boleh mengandung uraian-uraian yang bertentangan satu sama lain. Dengan kata lain koheren berarti memuat suatu kebenaran logis. Sebaliknya , apabila suatu uraian yang didalamnya tidak memuat kebenaran logis, maka uraian tersebut tidak koheren

4. Harus Rasional

Maksudnya unsure-unsurnya berhubungan secara logis. Artinya, pemikiran filsafat harus diuraikan dalam bentuk yang logs, yaitu suatu bentuk kebenaran yang mempunyai kaidah-kaidah berpikir (logika).

5. Harus Sinoptik

Sinoptik artinya pemikiran filsafat harus melihat hal-hal secara menyeluruh atau dalam kebersamaan secara integral.
6. Harus mengarah kepada pandangan dunia
Maksudnya adalah pemikiran filsafat sebagai upaya untuk memahami semua realitas kehidupan dengan jalan menyusun suatu pandangan (hidup) dunia, termasuk di dalamnya menerangkan tentang dunia dan semua hal yang berada di dalamnya (dunia).
Dialog adalah salah satu metode dalam pendekatan diskusi-diskusi filsafat yang ditempuh untuk meningkatkan kemampuan berpikir sampai pada rumusan pernyataan yang dianggap benar. Pendakatan filsafat gaya Plato juga melalui meta narasi dengan peran sebagai integrator/penanya utama dalam sebuah diskusi tentang sesuatu obyek yang kebenarannya disampaikan dalam bentuk pernyataan. Misalnya gaya bertanya jawab dengan Parmenides, Protagoras, atau orang-orang lain yang berdiskusi dengan Plato. Tokoh-tokoh dalam dialognya menggambarkan manusia sebagai pemikir, yang menyelidiki sebanyak mungkin pemikiran yang bisa ia dapatkan mengenai dunia, dirinya sendiri, dan kehidupan secara umum. Dari sinilah hasil diskusi itu kemudian diformulasikan dalam bentuk pernyataan dan pernyataan itu dinilai apakah mengandung kebenaran tentang obyek dibahasnya (Mariani, 2007: 3)

1) Epistemologi kaum realis. Menurut mereka, pengetahuan diperoleh melalui observasi. Epistemologi realisme adalah pendekatan umum pada dunia dengan metode sensori persepsi. Realisme menuntut manusia untuk tidak memberi penilaian atas segala sesuatu, tetapi membiarkan obyek berbicara tentang keberadaan mereka sendiri. Kebenaran bagi kaum realist adalah sebagai kenyataan hasil observasi. Persepsi indra manusia sebagai alat untuk mendapatkan pengetahuan. Realisme memakai pendekatan induktif untuk meneliti dunia nyata dan menggunakan prinsip-prinsip umum dalam melakukan observasi. Kaum realist mencari dan meneliti bagaimana dunia bekerja dengan mengalaminya. Kebenaran harus sudah dikonfirmasi pada situasi aktual sebagaimana dilakukan oleh para peneliti (observer) (Doni Heryanto, 8)

No comments:

Post a Comment