FILSAFAT ILMU: ONTOLOGI, EPISTEMOLOGI DAN AKSIOLOGI

BAHAN AJAR MK. FILSAFAT ILMU ONLINE BERBASIS FREE WEBLOG. "Pikiran adalah Pemberian Tuhan. Berpikir Mendalam terhadap realitas adalah bagian dari mengasihi Tuhan dan Sesama". Blog ini dikelola Oleh: Dr.Yonas Muanley, M.Th., Dosen Tetap STT IKSM Santosa Asih Jakarta

Artikel Terbaru

Monday, April 8, 2019

Filsafat yang didalam dan filsafat yang keluar

Yustinus Martir, seorang tokoh Kristen dalam perkembangan kekristenan mula-mula (30-590 M) memakai pendekatan Logos. Pendekatan logos pada waktu itu telah dipakai oleh para filsuf Yunani untuk menjelaskan atau berapologetika tentang logos Theos. Menurut Yustinus, ada dua logos Theos, yaitu: (1) Logos dalam Theos, dan (2) Logos yang keluar dari Theos (Teos). Yustinus menggambarkan proses kelahiran Logos sebagai kelahiran tanpa pemisahan dan pengurangan terhadap hakikat Allah. Logos adalah Putra Theos yang tunggal. Logos dilahirkan sebelum penciptaan dan keluar dari kehendak bebas Theos.

Logos itu sudah ada diantara manusia sebagai benih-benih kebenaran (logos spermatikos). Itulah sebabnya orang yang tidak percaya pada TUHAN pada waktu itu, membedakan yang benar dan yang jahat. Orang yang tidak percaya TUHAN juga berada di bawah pengaruh Kristus sebelum Kristus berinkarnasi. Yustinus berpendapat bahwa Socrates, Plato, Zeno, dan beberapa penyair Yunani serta sejarawan Yunani adalah murid-murid Logos. Mereka tidak menyadari bahwa mereka adalah murid Logos. Mereka adalah orang-orang Kristen sebelum Kristus (Wellem, 2003:194-195). Dengan kata lain, Logos, berarti Sabda kekal, Akal budi kekal, Akal budi pencipta. Oleh karena itu Yustinus berkesimpulan, karena Kristianitas adalah pernyataan pribadi dari Logos secara keseluruhan dalam sejarah, maka dapat dikatakan bahwa apapun yang dikatakan benar dalam diri siapapun itu yang benar yang pernah dikatakan oleh siapapun juga adalah milik kita, orang – orang Kristiani”

Yustinus mengatakan bahwa Perjanjian Lama dan filsafat Yunani adalah dua jalan yang mengantar kepada kristus, sang Logos. Itulah sebabnya filsafat Yunani tidak dapat dipertentangkan dengan kebenaran injil, dan orang – orang kristiani dapat menimbang daripadanya dengan kepercayaan seperti dari milik mereka sendiri. Meskipun filsafat Yunani tetap amat dihargainya, juga setelah ia bertobat, Yustinus benar – benar menegaskan bahwa dalam Kekristenan telah ditemukan ‘satu-satunya filsafat yang pasti dan menguntungkan ‘.”Secara keseluruhan, tokoh dan karya Yustinus menandai pilihan tegas Gereja awali untuk filsafat, untuk akal budi, bukan sebagai agama seperti yang dianut orang – orang kafir. Secara khusus Yustinus mengkritik dengan tak kenal ampun agama kafir serta mitos – mitosnya, yang dia pandang sebagai kesesatan dari jalan kebenaran. sebaliknya filsafat merupakan bidang yang menguntungkan dimana kekafiran, Yudaisme dan Kekristenan dapat bertemu, khusunya dalam hal mengkritik agama kafir serta mitos-mitosnya yang palsu.Yustinus juga para apologet lainnya yang bersama dia menegaskan dengan teguh pendirian yang ditentukan iman Kristiani untuk berpihak pada Allah para filsuf, melawan allah-allah palsu agama kafir. Itu berarti memilih kebenaran melawan mitos-mitos tradisional. Apologetika dapat didefinisikan sebagai pembelaan akan iman Kristiani.

No comments:

Post a Comment